Posted by : Annisa Sofia Wardah Senin, 23 September 2013


Inilah Langkahku yang kan kuayun
Walaupun payah tak akan jera
Ini langkahku kan trus meleju setegar karang bangkitkan jihadku
            Lagi souhar ikut meramaikan perjalanan yang menantang. Langit bersahabat menemani sepanjang perjalanan, kicauan burung menambah sahabat untuk bertasbih, menyebut nama-Nya di setiap nafas. Allahu Akbar! Subhanallah! Ahadun Ahad! Sering terucap di beberapa bibir yang berkolaborasi dengan mata yang melihat Maha Karya ciptaan-Nya.
            Tepat pukul 07.00 WIB pada hari minggu, setiap kaki melangkah tinggi menuju truk terbuka. Peserta ikhwan dan akhwat yang kurang lebih berjumlah 30 orang menaiki truk. Berbekal semangat yang menggebu dan lafadz bismillah, perjalanan dimulai. Semua mengambil gaya terbaik, berdiri menatap sekeliling dari atap terbuka.
            Gunung Pulosari, menjadi tujuan utama ngebolang tahun ini. Ngebolang ini diikuti oleh anggota keluarga besar Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPMI), mahasiswa baru, hingga wartawan Banten pos. Wajah-wajah mereka sungguh sumringah terlihat tidak sabar untuk mancapai puncak gunung Pulo Sari.
            Satu hal yang mendasar ngebolang ini adalah menjalinnya ukhuwah yang erat antar anggota KAMMI dan para peserta ngebolang yang mayoritas berupa mahasiswa baru. Canda, tawa, obrolan hangat mewarnai perjalanan ngebolang kali ini, hingga peristiwa tidak diduga pak polisi lalu lintas dengan gagahnya memberhentikan truk yang kami naiki di pasar Pandeglang. Ada apa yang terjadi? Entahlah, yang penulis ketahui anak KAMMI pandai bernegosiasi dan berhasil melanjutkan perjalanan menuju gunung Pulo Sari.
            Duha, solat sunnah melaluinya kami berharap berkah Sang Maha Kuasa. Beberapa kilo meter sebeleum sampai di tempat tujuan. Truk berhenti, para peserta ngebolang mulai berharap kisah indah penuh berkah pada Allahu Rabbi. Sujud, penuh pengharapan dan kebahagian memenuhi mushola yang berada di dekat jalan raya.
            Barisan rapih, menghitung jumlah anggota ngebolang, pemanasan raga. Ya, tepat pada pukul 09.10 WIB tiba di gerbang Pulo Sari. Setelah melakukan persiapan, langkah-langkah kaki menapaki jalan menuju gunung Pulo Sari. Semua nampak bersemangat, pekikan takbir meramaikan hutan.  
            Tanah yang begitu lembek, sepertinya hujan beberapa jam yang lalu sudah jatuh ke daerah gunung Pulo Sari, sehingga harus berhati-hati dalam berjalan menyusuri jalanan menuju puncak ketinggian. Peluh mulai membasahi wajah hingga badan, mulai terlihat di setiap peserta ngebolang. Medan jalan begitu menantang, harus fokus setiap kaki melangkah. Banyak akar, batu besar, kerikil, jalanan berair, jurang. Tidak konsentrasi dalam berjalan bisa dipastikan nyawa menjadi taruhannya.

            Belerang mulai tercium, dan pukul 11.20 WIB. Tampak bahagia, dan segera mulai memasang masker. Karena belereng sangat menyengat hidung. Kejadian yang memang jarang dialami tidak dilewatkan oleh seluruh peserta untuk mengabadikannya dalam jepretan lensa kamera. Tidak begitu lama, 11.40 perjalanan di mulai kembali untuk mencapai puncak, mencapai bendera merah putih yang sejak tadi suha melambai-lambai.

            Menuju puncak bukanlah hal yang mudah. Jalanan curam itu begitu licin, akar memenuhi jalan. Menjadikan peserta harus ekstra hati-hati. Semakin sering menyebut asma-Nya! Tidak salah lagi, jurang berada di sebelah kiri jalan, tidak konsentrasi, mati sudah :D
            Yuhuuu! Takbir menggema, walaupun tidak serempak. Puncak, dan sang bendera merah putih kini sudah tidak sendiri. Ngebolangers tiba menemani si bendera yang sepi, menatap pemandangan yang subhanallah tidak akan habis-habis keindahannya! Kembali lagi, semua berpose bak model, tidak peduli dengan wajah yang kucel, tak berbentuk karuan. Itulah KAMMIers selalu eksis terlebih lagi dengan lukisan nyata indah buatan-Nya. Setelah itu mulai mengisi bahan bakar, mesin yang menderu sudah minta diisi perbekalan, makanan yang tidak mewah tapi sangat indah full berkah ketika dinikmati bersama-sama.




            Perjalan yang panjang, medan yang dibuat ngos-ngosan, terbayar dengan waktu yang hanya singkat, karena mengejar waktu kawatir sang mentari kembali ke peraduannya. Perjalanan menuruni puncak, memanglah tidak membutuhkan tenaga yang keras seperti awal mendaki, namun harus lebih berhat-hati karena jalanan yang curam dan harus bisa menyeimbangkan tubuh.
            Sesampainya di kawah, tidak lupa memuji Nya dalam ruku dan sujud. Disini, peserta mengqashar solat ashar dan dzuhur. Setelah berjamaah solat, perjalanan kembali dilanjutkan. Kini, berpacu dengan waktu. Jika sang bola api sudah kembali ke rumahnya, tentu akan kesulitan menyusuri jalan. Karena para peserta tidak membawa senter.
18.10 WIB, tibalah di tempat awal memulai perjalanan, dengan kaki yang lebih cepat melangkah, suara jangkrik, dan suara anjing hutan yang semakin kocar-kacir mengeluarkan tenaga. “Allahu Akbar!” pekikan takbir memang tidak henti keluar dari peserta. Suatu kebahagian bisa menaklukan 1436 mdpl ini. Kembali ke truk, menuju rumah, kosan terkasih.
 Satu rasa di dalam hati? Ngebolang lengkap dengan ukhuwah penuh rasa sayang. Kemudian timbul pertanyaan “Ngetrip kemana lagi?” Coming soon! .
00.53 WIB
Dalam alunan shouhar, dan jemari yang gatalJ
Terima kasih yang Terkasih Allah J

           









(penulis)

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © JEJAK RINDU - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -