PERJALANAN DI BAJA CINTA



Kau  tahu cinta? Ia adalah deretan lima huruf yang bisa merubah dunia. Ada bergembira dibuatnya, bersedih hingga gila. Adapula cinta yang memang selalu merapal nama-nama dalam doa tanpa kau perlu tahu wajahnya. Dan pada satu muharram, cinta itu datang di kota Baja.  

Dengan rasa penasaran membuncah pada suatu nama tempat yang saya lipat rapat namanya dan ditaruhkan di dalam kantung hati, sebuah tempat yang katanya indah, dari satu batu dapat memandang seluruh isi dalam satu kota, benarkah?

Ada rasa penasaran dan ingin bercinta yang memaksa diri lari dari kepenatan hari yang menjemukkan. Jika orang lain menganggap kami refreshing ya bisa jadi, tapi saya lebih merasa ingin mengolah hati dan bercengkrama pada alam. Menikmati belaian angin perbukitan, tanjakan, turunan, aroma dedaunan pohon.

Adalah mereka empat bidadari tak bersayap. Berawal dari sebuah pesan yang masuk kepada HP Nokia 200, tentang ajakan pada tanggal 5 November untuk bermain ke batu lawang. Dialah sosok perempuan yang berjibaku dengan laboratorium dan korasi, Vera Nita Sako yang sangat lembut dan gesit dalam berjalan. Selanjutnya Isna wong Brebes yang nyasar di cilegon, keramahan dan kehebohannya menjadi salah satu warna terindah dalam perjalanan kali ini, ketiga teh Mahfudoh, teman seangkatan yang memiliki warna tersendiri, gayanya yang cool dan memiliki jiwa ke”Kakak-an” yang selalu ikhlas untuk mengabadikan kami dalam setiap jepretan lensa kamera digital, dan terakhir adalah Kiki perempuan berkacamata yang memiliki simpul senyum manis, yang berselera mendaki, namun kawatir ingkar janji, secara malamnya Kiki akan mengajar privat. Kalian memang berbeda, tapi satu hal yang membuat kalian sama adalah satu ruang yang kalian sediakan untuk kami, yaitu cinta.

Tepat pukul 11.00 wib, primajasa membawa para anak pemberani (saya, Ateh dan Mbak Lin) untuk memenuhi undangan dari bidadari tak bersayap. Bayang-bayang hantu berupa RPP, Silabus, media pembelajaran cukup memberikan rasa kawatir dan cemas, tapi ini saatnya sejenak untuk berpisah dari mereka. Tilawah dan candaan mengiri perjalanan serang-cilegon. Rp. 4.000,- harga yang sesuai untuk kantong mahasiswa (dan semoga tidak naik ongkos lagi hehe) .

Lampu merah damkar, padanya saya beserta kedua sahabat yang hebat ini turun menyusuri jalan menuju Fakultas Tehnik- Cilegon. Jika dulu dengan hanya seribu kita berani naik angkot. Lagi, perempuan selalu berusaha untuk berhemat, mungkin ini adalah naluri seorang “Ibu”. Sambil menikmati teriknya matahari, kami dengan cerianya berjalan yang entah kami tahu apa nama daerah tersebut, dan sangat bersyukur di sepanjang jalan banyak menemukan pohon yang memiliki buah berwarna merah, cherikah namanya? Entahlah, buah tersebut enak dimakan. Bersyukur pula tidak ada yang melewati jalannan tersebut, kalau ada sikap kekanak-kanakan kami bisa terlacak.

Mesjid Al-Mutam’ilin menjadi tempat bersujud, dan ruku, beristirahat bercerita pada Nya. Mesjid kampus Tehnik yang memiliki keunikannya tersendiri dan bikin iri. Iri? Terlihat jelas basecamp yang berada disampingnya ada perpustakaan mini, jadi teringan dulu zaman semester 1 masih merasakanbasecamp akhwat.

Dan setelah selesai menghadap-Nya, Ibu Vera dengan pakaian serba ungunya, Isna dengan abu-abunya, datang dengan penuh keramah tamahan. Senda gurau sempat jadi penyejuk panasnya Cilegon saat itu. Tidak lama berada di rumah Allah, saatnya menjumpai teh Mahfudoh dan Kiki, saat itu belum mengenal mereka, dan kantin yang berada di samping aula FT menjadi saksi akan perkenalan singkat yang memberikan kesan mendalam.

Tiga motor menjadi kendaraan vital saat itu. Motor milik Vera, motor milik Isna, dan satulagi miliki seorang bernama Faisal (katanya). Jumlah kami yang bertujuh, memaksa salah satu motor untuk bertuti (tumpuk tiga), hanya merekalah yang berukuran S (small) yang terpaksa harus bertuti yaitu Mbak Lin, Ateh dan teh Mahfudoh. Isna dengan Kiki, dan saya dengan Ibu Vera.

Bermodal nekad memang, langit gelap. Tapi roda motor terus berputar, hingga satu tetesan berebuatan jatuh untuk membasahi kami. Di suatu komplek (entah namanya apa) pada gardu yang sangat mungil menjadi tempat teduhan. Refleksi sejenak, mungkin ini penyebab dari keluhan saya sepanjang jalan “Nggak Serang, nggak Cilegon. Hoaalahh panasnya rek!” dan tips untuk yang mau jalan-jalan hindarilah mengeluh, memang mengeluh pada dasarnya tidak baik.

Entah pukul berapa, hujan reda dan memulai perjalanan kembali. Satu hal yang menjadi penyelasn selama perjalanan adalah lupa mengenakan jam hitam Q&Q yang modelnya macho sekali, jam yang selalu menemani kemanapun. Selain itu adalah ardiles yang tak mampu menemani, entah dia pergi kemana ini sungguh memilukan. Oke, abaikan.

Kalau tidak salah saat itu menunjukan pukul 14.30 wib. Ketika sampai di Gerem tempat KKMannya Isna, ketiga motorpun dititipkan pada seorang ibu yang sangat baik hati. Perjalanan menuju batu lawang adalah hamparan aspal hitam yang masih baru, bukan jalanan setapak. Dengan menggunakan motorpun sebenarnya bisa kilat untuk mencapai atas. Tapi sensasi bermesraan dengan alam tentu tidak akan didapat.

start
Aaa... Ini langkahku
Aaa... Terus melaju
Aaa... Ini langkahku
Perjalananpun dimulai, berjalan dengan gayanya masing-masing. Ada yang cepat, lambat, sering berhenti karena bernasis ria, ada yang selama perjalanan memasang musik shouhar dengan keras. Itulah kami sungguh berbeda, satu hal yang sama yaitu tiba di Batu Lawang.

Isna dan teh Mahfudoh berduet menjadi tourguide kami yang sangat baik hati. Sangat baik hatinya kepada teh Mahfudoh yang selalu dengan sukarelanya menjadi photographer handal, kesamaan lain bagi kami yang baru mengenal ini adalah memiliki jiwa “narsisme” dan “metisme”. Ya, tidak hanya berpoto-poto ria, tapi bernasis ria. Dan bahagianya juga teh Mahfudoh sangat perhatian mengupas mangga, begitupun dengan Vera yang sudah menyiapkan sambal petisanya yang sangat mantap.

Dalam perjalanan ini saya membawa anak biologi, dan sepanjang jalanpun kuliah umum mengenai nama latin dari tumbuhan yang ditemukan sepanjang jalan.
“Jagung?”
“Kalau Padi?”
Belum lagi ditambah empat orang berjurusan kimia membicarakan korasi, hah makanan apa itu? Saya jarang mendengarnya di Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Tidak hanya bernasis ria, poto-poto, dan kuliah umum dan saya menjadi seorang pewawancara dan seorang penyimak yang baik. Ketika Isna, Vera, dan Teh Mahfduoh berbicara eratnya angkatan mereka, di FT dan pendakian yang sudah kesana-kemari, planning ke cikuray, semeru. Oaaa! Bikin ngiri saja mereka.

Adzan berkumandang dan saatnya untuk beribincang dan mengharapkan keberkahan kepada sang Pecinta. Solat kali itu dipenuhi bumbu perjuangan karena air sedang kerontang, dan hasilnya harus mencari air terlebih dahulu. HP pun mendadak kebanjiran sms yang berdatangan. Selama perjalanan memang sinyal untuk penggunna kartu 3 tidak bersahabat. Sinyal saat itu bagaikan desiran cinta, yang tidak mudah ditebak datangnya, dan perginya (cieelah bahasanya hehe).

Singsingkan lengan baju pancangkan asa
Ukirlah hari esok pertiwi jaya
Bergandengan tangan tuk meraih ridho Allah

Buatlah negri ini selalu tersenyum
Bahagia dan Sejahtera dalam cinta-Nya
Tiada lagi resah tiada lagi duka lara

Negeri indah Indonesia
Memanggil namamu
Menyapa nuranimu

Negeri Indah Indonesia
Menanti hadirmu
Rindukan karyamu                           

Ya! Syukur tak pernah berhenti ketika telah melalui kebun warga, dan akhirnya menemukan saung. Saung yang sudah roboh, siapakah penyebabnya? Apakah mereka yang telah memasang Poto Profil sambil duduk di atas atap saung? Merekakah #eh.

Indah sungguh indah. Tidak menyangka cilegon yang sumpek dan semeraut oleh pabrik, ditengah-tengahnya terdapat perbukitan yang indah. Sejauh mata memandang, semua berlukiskan hamparan perbukitan.
Kembali berjalanan menuju batu yang dinamakan dengan batu lawang,  semua sudah bersiap lebih semangat terlebih lagi “Indonesia memanggil” menjadi lagu yang paling nge-hits selama perjalanan, dan ini serasa sedang membuat vidioclip saja.

Dan perjuangan yang tidak mudah menggunakan rok menaiki batu yang besarnya melebihi tubuh, belum lagi ada yang takut ketinggian. Tapi atas kuasanya, dan tra la..la…la kami mampu “metis” mangga di atasnya, dan ritual yang tidak bisa ditinggalkan dan menguat dalam diri yaitu beropoto ria. Sungguh bersyukur untuk 1 muharaam ini. Harus bersyukur walaupun tidak menjumpai senja, dan belum dapat menikmati indahnya laut secara jelas.

Ya, dari atas batu lawang ini keelokan Cilegon bisa terasakan. “Ini baru Cilegon udah cakep! Gimana semeru, papandayan, raja ampat. Alamak Indonesia benar-benar cakep!” tidak lama memang berada di batu, karena ada alarm yang selalu mengingatkan yaitu siapa lagi kalau bukan teh Mahfudoh.

Pukul 17.30 waktu kita berpisah dengan si batu lawang. Satu harapan bisa kesana kembali lagi dengan jalur yang berbeda,  jalur yang konon lebih indah dan menantang, jalur melalui bopar kata tourguide.
Sesampainya di tempat warga kami langsung menunaikan solat magrib, dan bersiap diri menuju FT. Selama perjalanan menuju rumah warga ada satu keunikan dan bertambah kagum sama teh Mahfudoh dia punya trik jitu, dan saya akan mengcopy paste triknya.
“Oiii yang paling terakhir teraktir baso!”
“Woyy, yang paling depan teraktir es krim!”
Sekelibat yang jalan paling terakhir langsung pasang gigi 3 ngebut lari, yang depan siap rem pakem. Sungguh unforgatable  bersama ke empat bidadari tak bersayap, dan para sahabat yang saya bawa dari Serang.
Next Trip? Kemana lagi. Itu yang kami tunggu.

Sepenggal obrolan dalam perjalanan…
“Kenapa mesti naik gunung?”
“ Lelah, letih, pegal-pegal memang, tapi darisana kita benar-benar menguji kesabaran. Menahan emosi, mengontrol diri, menampar diri bahwa diri ini kecil. Kembali untuk merendah dan meninggikan nama-Nya.”
Dan pada luapan 26 huruf ini bermuara akan sadarnya cinta yang sudah ditaruh jauh-jauh hari dari Nya, tanpa bisa menerka siapa yang kau sebut dalam doa, hingga pada detik kemarin 1 muharam membuktikan bahwa di segala sudut waktu, dan insan selalu ada cinta dengan tulus. Kembali, dan tidak akan pernah bosan “Jazakmullah..” untuk para bidadari tak bersayap.


di suatu jalan, entah apa namanya.  Kita adalah  CISERES (Cilegon serang lovers hehe ngaco)
aku, kamu, mereka kini adalah kita :) 

Dimulai menulis tanggal 6 Nov di SDN 2I Serang di selesaikan di sudut ruang kamar tercinta pada 7 November 2013 dalam penuh kerinduan untuk bermesraan lagi dengan alamnya.
11.35 WIB
Alunan souhar-

PAKET HEMAT, PULAU MANUK


            BBM naik, so makanan juga ikutan naik. Ini kerasa banget untuk saya yang ukuran mahasiswa dengan kerja yang masih serabutan. Beli ikan tongkol di warteg hijau yang di dekat kampus aja, potongan ekornya bisa menyampai harga Rp. 4000,- sodara-sodara! Bayangkan! Mahal! (haha alay amat). Tapi cobalah berjalan sejanak seraya melepaskan diri dari kepenatan di dunia kampus menuju Bayah, tepatnya di pulau manuk. Di sana akan menemukan makanan super hemat, RP 5000,- untuk satu ekor segar ikan tongkol yang sudah dibuang kotoranya, dan dibakar, tentunya masih segar dan ukurannya so big! Yummy!. Siang-siang yang panas, enaknya menyantap buah yang segar. Nah, ada juga rujukan buah dengan harga Rp.7000,- yang saat itu disantap bersama untuk 4 orang semua merasakan kenyang. Tuh kan benar-benar hemat. Ada lagi, semangka satu potong besar di hargai hanya dengan Rp. 1000,- nah kalau dibandingkan lagi dengan kampus, bisa sampai Rp. 3.000,- perpotongnya.
            Bicara soal perut adalah hal vital dalam melakukan perjalanan. Semoga awal paragraph tersbut yang berbicara makanan bukan menunjukan saya yang gembul ya, tidak sama sekali, atau tidak salah lagi hehe. Selain makanan, banyak kenikmatan yang di dapatkan di pulau manuk ini. Perjalanan yang ditempuh selama 5 jam, berangkat dari rumah tercinta, Rangkasbitung. Perjalanan yang tidak begitu mudah karena harus menyediakan aneka ragam obat, obat pusing, mual, sakit perut, dan lain-lain. Tapi, karena saya sudah biasa diterpa angin, jadi saya tidak membawa obat hanya mengantongi si dingin freshcare.
            Perjalanan yang panjang ditempuh melalaui jalan ke arah gunung kencana. Sungguh diujui kesabaran dalam perjalanan menuju pulau manuk. Mengapa? Karena jalanya sungguh hancur, kepala, badan, tangan, kaki dibuat ber-DJ ria. Untuk yang tidak terbiasa disarankan untuk membekal obat anti mabuk, anti pusing, dan anti lapar.  Merasakan jalan yang rusak semaraut itu menghantarkan saya untuk mengingat seseorang. Tentunya bukan rambut cepak, kaum berjenggot. Bukan! Saya ingat kepada seorang sosok wanita yang putih, hobinya berkosmetik, yang sempat main petak umpet , Bunda Atut. “Kemana aja ya si bunda? kok jalananya gak diperhatikan.” Jadi ingat semalam, inget sama Bunda juga. Semalam yang berbela berjejelan di bis setan, karena ingin segera menyatukan rindu dengan orangtua. Dan  saya merasa tertirikan dengan langkanya kendaraan menuju Rangkasbitung. Nggak kereta, nggak bis, semuanya penuh dan sama-sama langkanya.
            Hari minggu tanggal 13 Oktober 2013, menjadi salah satu rekomandasi untuk mengadakan pesta pernikahan karena tanggalnya cantik, 13-10-2013. Ya, sebenernya tujuan utama sekeluarga menuju Bayah, adalah menghadiri salah satu kerabat bapak yang sedang menikahi anak gadisnya. Setelah melewati gunung kencana, cileles, malingping, panggarangan, dan tiba di Bayah tepat pukul 12.00 WIB. Speachles! Melihat walimahan yang syar’i. Sudah biasa sih sebeneranya ngehadirin nikahan kakak kelas yang backgroundnya LDK, KAMMI. Eh, tapi jarang-jarang ngintil dengan orangtua ke pernikahan kerabat mereka , terus menemukan konsep tamu undangan yang dipisah antara kaum adam dan hawa.   Apalagi, kerabat orangtua yang menikahkan saat itu adalah TNI-AD. Patut recomanded deh untuk konsepannya #eh.
            Inilah yang saya tunggu, menuju pulau manuk. Perjalanan menuju pulau manuk sangatlah menyenangkan, selama memata memandang dari dalam mobil yang didapatkan adalah pesona alam, laut yang membentang luas, langit biru, jalanan yang bagus terlihat masih hitam habis di aspal, dan terpenting tidak terkena macet.
            12.30 WIB tepat memasuki kawasan pulau manuk. Tidak begitu jauh bukan? Bagus di sana terdapat mushola, dan hal terindah adalah mukenanya harum tidak bau apek. Setelah mensyukuri nikmat-Nya melalui sujud, ruku. Akhirnya siap menikmati pasir, dan deburan ombaknya Pulau Manuk. Satu hal yang membuat saya terenyuh adalah rasa rindu itu kembali muncul, rindu kepada pulau sabeku, dan rakata. Ahh.
            Pulau manuk memeliki kesamaan dengan sabeku. Pasirnya bersih, air lautnya juga. Tapi, sabeku masih menjadi yang pertama di hati, belum ada yang bisa menggantikannya. Tetap untuk bertasyakur alam. Pulau  ini sungguh memesona dengan segala lekuk keindahanya. Dia memiliki banyak pepohonan, dan batu karang yang sangat besar sangat cocok untuk  bernasis ria, dan merenungi kehidupan hehe. So siapkan camera terbaikmu ya! Saya mengabadikannya dalam kamera HP Samsung 1,3. Kurang bagus dibandingkan dengan kamera seleher (read:DSLR, doakan ya supaya segera punya J ). Pulau manuk memang sangat memuaskan untuk mereka yang mempunyai hobi bermain air laut, dan bernasis ria. Keunikan dari pulau ini adalah di bagian baratnya adalah hamparan luas pasir, dan di sebelahnya lagi adalah bebatuan karang yang beraneka ragam, ada yang kecil hingga besar dan tingginya melampui badan.  Bagi yang suka membasahi diri karena senang berkejaran deng ombak, tak usah risau akrena disana ada kamar mandi dengan tarif Rp. 2.000,- lokasinya tidak jauh dari samping mushola.
Pantainya sepi, padahal sangat indah.

Bebatuanya ada yang kecil hingga super besar

            Ada monyet! Ya saya masih keheranan “Kenapa bukan pulau monyet?” disana ketika menjelang sore banyak dijumpai monyet. Entah jenisnya apa, yang saya tahu monyetnya ada yang berukuran kecil, sedang, besar, dan ekstra besar (s, m, l, xl ). Monyetnya biasanya turun gunung ketika menjelang sore, tenang saja mereka sangat jinak, tapi kudu hati-hati. Lengah sedikit sama perbekalan makanan, bisa diambil diam-diam sama keluarga monyet. Para pengguna jalanpun biosa menjadi kemacetan di jalanan pulau manuk. Karena tidak sedikit para pengendara mobi, motor, berhenti sejenak untuk member makanan kepada para monyet. Pare monyet berada di hutan yang berbatasan dengan jalan raya, jadi wajar saja jika sekelompokan monyet ini menjadi daya tarik mereka yang melewati jalan tersebut. Dan, saya sangat bahagia ketika bisa menyentuh tangan si monyet, dan menjadi saksi kemesraan antara ibu monyet dan anak bayi monyet (sayang nggak ke poto ibu dan bayi monyetnya).

            Dan menyisakan kepiluan adalah menhan rasa penasaran akan pulau yang disebut banyak orang yaitu “pulau dewatanya Banten”, Sawarna. “Bagusan pulau manuk neng” ucap ibu penjual rujak, ditambah lagi dengan penjual tahu bulat yang mengatakan hal yang sama. Mereka punya argument yang sama tentang Sawarna yaitu gersang. Benarkah? Dan perbedaan selanjutnya jika ke Sawarna harus bayar, tapi ke Pulau Manuk, gratis! Jika tempat duduk di Sawarna berbayar lagi, di Pulau Manuk tidak mengeluarkan rupiah sepeserpun. So, paket hemat ya dan semoga bermanfaat.
Rangkasbitung, 14 Oktober 2013
Dalam kepegalan yang nyata :D



Tag : ,

Tanah

pada basah dedaunan
rintihan hati mendesah
rindu ini tidak terarah

pada mata yang saling memandang
lukisan Pecinta
Di sana kita bercinta
menjalin kasih hingga berkisah

Terimalah sujud, di atas cokelat gembur
pada tanah yang kita pijaki,
ada hati yang tersakiti.
Sakit menahan rindu tak terpenuhi

Hanya harapan tak berujung
menjajaki tanah di relung gunung
Tag : ,

Ngebolang, Ukhuwah Penuh Sayang!


Inilah Langkahku yang kan kuayun
Walaupun payah tak akan jera
Ini langkahku kan trus meleju setegar karang bangkitkan jihadku
            Lagi souhar ikut meramaikan perjalanan yang menantang. Langit bersahabat menemani sepanjang perjalanan, kicauan burung menambah sahabat untuk bertasbih, menyebut nama-Nya di setiap nafas. Allahu Akbar! Subhanallah! Ahadun Ahad! Sering terucap di beberapa bibir yang berkolaborasi dengan mata yang melihat Maha Karya ciptaan-Nya.
            Tepat pukul 07.00 WIB pada hari minggu, setiap kaki melangkah tinggi menuju truk terbuka. Peserta ikhwan dan akhwat yang kurang lebih berjumlah 30 orang menaiki truk. Berbekal semangat yang menggebu dan lafadz bismillah, perjalanan dimulai. Semua mengambil gaya terbaik, berdiri menatap sekeliling dari atap terbuka.
            Gunung Pulosari, menjadi tujuan utama ngebolang tahun ini. Ngebolang ini diikuti oleh anggota keluarga besar Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPMI), mahasiswa baru, hingga wartawan Banten pos. Wajah-wajah mereka sungguh sumringah terlihat tidak sabar untuk mancapai puncak gunung Pulo Sari.
            Satu hal yang mendasar ngebolang ini adalah menjalinnya ukhuwah yang erat antar anggota KAMMI dan para peserta ngebolang yang mayoritas berupa mahasiswa baru. Canda, tawa, obrolan hangat mewarnai perjalanan ngebolang kali ini, hingga peristiwa tidak diduga pak polisi lalu lintas dengan gagahnya memberhentikan truk yang kami naiki di pasar Pandeglang. Ada apa yang terjadi? Entahlah, yang penulis ketahui anak KAMMI pandai bernegosiasi dan berhasil melanjutkan perjalanan menuju gunung Pulo Sari.
            Duha, solat sunnah melaluinya kami berharap berkah Sang Maha Kuasa. Beberapa kilo meter sebeleum sampai di tempat tujuan. Truk berhenti, para peserta ngebolang mulai berharap kisah indah penuh berkah pada Allahu Rabbi. Sujud, penuh pengharapan dan kebahagian memenuhi mushola yang berada di dekat jalan raya.
            Barisan rapih, menghitung jumlah anggota ngebolang, pemanasan raga. Ya, tepat pada pukul 09.10 WIB tiba di gerbang Pulo Sari. Setelah melakukan persiapan, langkah-langkah kaki menapaki jalan menuju gunung Pulo Sari. Semua nampak bersemangat, pekikan takbir meramaikan hutan.  
            Tanah yang begitu lembek, sepertinya hujan beberapa jam yang lalu sudah jatuh ke daerah gunung Pulo Sari, sehingga harus berhati-hati dalam berjalan menyusuri jalanan menuju puncak ketinggian. Peluh mulai membasahi wajah hingga badan, mulai terlihat di setiap peserta ngebolang. Medan jalan begitu menantang, harus fokus setiap kaki melangkah. Banyak akar, batu besar, kerikil, jalanan berair, jurang. Tidak konsentrasi dalam berjalan bisa dipastikan nyawa menjadi taruhannya.

            Belerang mulai tercium, dan pukul 11.20 WIB. Tampak bahagia, dan segera mulai memasang masker. Karena belereng sangat menyengat hidung. Kejadian yang memang jarang dialami tidak dilewatkan oleh seluruh peserta untuk mengabadikannya dalam jepretan lensa kamera. Tidak begitu lama, 11.40 perjalanan di mulai kembali untuk mencapai puncak, mencapai bendera merah putih yang sejak tadi suha melambai-lambai.

            Menuju puncak bukanlah hal yang mudah. Jalanan curam itu begitu licin, akar memenuhi jalan. Menjadikan peserta harus ekstra hati-hati. Semakin sering menyebut asma-Nya! Tidak salah lagi, jurang berada di sebelah kiri jalan, tidak konsentrasi, mati sudah :D
            Yuhuuu! Takbir menggema, walaupun tidak serempak. Puncak, dan sang bendera merah putih kini sudah tidak sendiri. Ngebolangers tiba menemani si bendera yang sepi, menatap pemandangan yang subhanallah tidak akan habis-habis keindahannya! Kembali lagi, semua berpose bak model, tidak peduli dengan wajah yang kucel, tak berbentuk karuan. Itulah KAMMIers selalu eksis terlebih lagi dengan lukisan nyata indah buatan-Nya. Setelah itu mulai mengisi bahan bakar, mesin yang menderu sudah minta diisi perbekalan, makanan yang tidak mewah tapi sangat indah full berkah ketika dinikmati bersama-sama.




            Perjalan yang panjang, medan yang dibuat ngos-ngosan, terbayar dengan waktu yang hanya singkat, karena mengejar waktu kawatir sang mentari kembali ke peraduannya. Perjalanan menuruni puncak, memanglah tidak membutuhkan tenaga yang keras seperti awal mendaki, namun harus lebih berhat-hati karena jalanan yang curam dan harus bisa menyeimbangkan tubuh.
            Sesampainya di kawah, tidak lupa memuji Nya dalam ruku dan sujud. Disini, peserta mengqashar solat ashar dan dzuhur. Setelah berjamaah solat, perjalanan kembali dilanjutkan. Kini, berpacu dengan waktu. Jika sang bola api sudah kembali ke rumahnya, tentu akan kesulitan menyusuri jalan. Karena para peserta tidak membawa senter.
18.10 WIB, tibalah di tempat awal memulai perjalanan, dengan kaki yang lebih cepat melangkah, suara jangkrik, dan suara anjing hutan yang semakin kocar-kacir mengeluarkan tenaga. “Allahu Akbar!” pekikan takbir memang tidak henti keluar dari peserta. Suatu kebahagian bisa menaklukan 1436 mdpl ini. Kembali ke truk, menuju rumah, kosan terkasih.
 Satu rasa di dalam hati? Ngebolang lengkap dengan ukhuwah penuh rasa sayang. Kemudian timbul pertanyaan “Ngetrip kemana lagi?” Coming soon! .
00.53 WIB
Dalam alunan shouhar, dan jemari yang gatalJ
Terima kasih yang Terkasih Allah J

           









(penulis)

Tanpa Mu, Apalah aku?

Tiada kata yang terucap selain syukur yang tidak pernah berhanti terlafal dari bibir ini. Menyaksikan segala kemolekan pulau Sabeku Kecil. Pulau yang di tempuh selama 2 jam mengarungi laut biru dari Pulau Sabesi. Inilah Surga yang berada di Bumi, lantas terucap "Bagaimanakah surga Nya pada kehidupan sebenaranya?"

Pasirnya lembut, jemariku tak bosan untuk meremas remasnya, memainkannya, melumuri tubuh dengan butiran-butiran halus itu. Laut biru yang sungguh mempesona, masih terjaga kecantikkannya. Ketika kaki melangkah, ada beberapa perhiasan laut yang sungguh indah, karang putih yang jarang ada di beberapa pantai provinsi Banten, tempatku melukiskan kisah. Ikan pun sangat mudah ditemukan, pernahkah menonton film Nemo? Ya, ikan yang kutemukan disni lebih cantik dari ikan nemo. Saling berkejaran antara ikan satu dengan ikan yang lainnya, kemudian mengumpat di terumbu karang. Yang sungguh aduhai, begitu indah! Tidak usah jauh-jauh menyelam ke dalam lautan karena air jernih berkata "Mereka indah" kemudian dengan mudah, kita dapat menikmati segala aquarium hidup-Nya.

Sungguh, pulau yang sepi tapi bisa merasuki hati. Menjadikan hati selalu memuji asma-Nya. Ketika kedua kaki bermain, berkejar-kejaran dengan ombak sungguh membuat hati bahagia tidak karuan. Dialah yang Kuasa yang masih memberi kesempatan untuk seluruh panca inderaku menyaksikan akan Maha Karyanya. Sujud syukur tidak boleh di lewatkan, karena Tanpa Nya, Apalah aku?

Pulau Sabeku, Surga Kita


Dia terapung di pinggir laut. Berharap ada orang yang duduk menaikinya. Kapal yang sangat beruntung terombak-ambik di Laut yang bagiku ini adalah Surga. Pulau Sabeku, pulau yang membuat ku cemburu. Cemburu pada mereka yang dengan mudah bisa berkunjung kapan saja ke pulau ini. Aku cemburu pada nelayan yang bisa menikmati angin sepoi lelautan, memanggang ikan di pantainya.

Kapal itu memang kosong, karena pemiliknya sedang memenuhi keroncong perutnya. Aku sapa para nelayan yang sedang menikmati ikan bakarnya. Merekalah sang penjaga surga, surga dunia yang sungguh memolekkan.

Menjadikan hati menggebu untuk selalu mencari surga-surga di belahan Indonesia, hingga Dunia. Pada Sabeku, ku titip rindu untuk surgaku. 

- Copyright © JEJAK RINDU - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -