Posted by : Annisa Sofia Wardah Selasa, 15 Oktober 2013


            BBM naik, so makanan juga ikutan naik. Ini kerasa banget untuk saya yang ukuran mahasiswa dengan kerja yang masih serabutan. Beli ikan tongkol di warteg hijau yang di dekat kampus aja, potongan ekornya bisa menyampai harga Rp. 4000,- sodara-sodara! Bayangkan! Mahal! (haha alay amat). Tapi cobalah berjalan sejanak seraya melepaskan diri dari kepenatan di dunia kampus menuju Bayah, tepatnya di pulau manuk. Di sana akan menemukan makanan super hemat, RP 5000,- untuk satu ekor segar ikan tongkol yang sudah dibuang kotoranya, dan dibakar, tentunya masih segar dan ukurannya so big! Yummy!. Siang-siang yang panas, enaknya menyantap buah yang segar. Nah, ada juga rujukan buah dengan harga Rp.7000,- yang saat itu disantap bersama untuk 4 orang semua merasakan kenyang. Tuh kan benar-benar hemat. Ada lagi, semangka satu potong besar di hargai hanya dengan Rp. 1000,- nah kalau dibandingkan lagi dengan kampus, bisa sampai Rp. 3.000,- perpotongnya.
            Bicara soal perut adalah hal vital dalam melakukan perjalanan. Semoga awal paragraph tersbut yang berbicara makanan bukan menunjukan saya yang gembul ya, tidak sama sekali, atau tidak salah lagi hehe. Selain makanan, banyak kenikmatan yang di dapatkan di pulau manuk ini. Perjalanan yang ditempuh selama 5 jam, berangkat dari rumah tercinta, Rangkasbitung. Perjalanan yang tidak begitu mudah karena harus menyediakan aneka ragam obat, obat pusing, mual, sakit perut, dan lain-lain. Tapi, karena saya sudah biasa diterpa angin, jadi saya tidak membawa obat hanya mengantongi si dingin freshcare.
            Perjalanan yang panjang ditempuh melalaui jalan ke arah gunung kencana. Sungguh diujui kesabaran dalam perjalanan menuju pulau manuk. Mengapa? Karena jalanya sungguh hancur, kepala, badan, tangan, kaki dibuat ber-DJ ria. Untuk yang tidak terbiasa disarankan untuk membekal obat anti mabuk, anti pusing, dan anti lapar.  Merasakan jalan yang rusak semaraut itu menghantarkan saya untuk mengingat seseorang. Tentunya bukan rambut cepak, kaum berjenggot. Bukan! Saya ingat kepada seorang sosok wanita yang putih, hobinya berkosmetik, yang sempat main petak umpet , Bunda Atut. “Kemana aja ya si bunda? kok jalananya gak diperhatikan.” Jadi ingat semalam, inget sama Bunda juga. Semalam yang berbela berjejelan di bis setan, karena ingin segera menyatukan rindu dengan orangtua. Dan  saya merasa tertirikan dengan langkanya kendaraan menuju Rangkasbitung. Nggak kereta, nggak bis, semuanya penuh dan sama-sama langkanya.
            Hari minggu tanggal 13 Oktober 2013, menjadi salah satu rekomandasi untuk mengadakan pesta pernikahan karena tanggalnya cantik, 13-10-2013. Ya, sebenernya tujuan utama sekeluarga menuju Bayah, adalah menghadiri salah satu kerabat bapak yang sedang menikahi anak gadisnya. Setelah melewati gunung kencana, cileles, malingping, panggarangan, dan tiba di Bayah tepat pukul 12.00 WIB. Speachles! Melihat walimahan yang syar’i. Sudah biasa sih sebeneranya ngehadirin nikahan kakak kelas yang backgroundnya LDK, KAMMI. Eh, tapi jarang-jarang ngintil dengan orangtua ke pernikahan kerabat mereka , terus menemukan konsep tamu undangan yang dipisah antara kaum adam dan hawa.   Apalagi, kerabat orangtua yang menikahkan saat itu adalah TNI-AD. Patut recomanded deh untuk konsepannya #eh.
            Inilah yang saya tunggu, menuju pulau manuk. Perjalanan menuju pulau manuk sangatlah menyenangkan, selama memata memandang dari dalam mobil yang didapatkan adalah pesona alam, laut yang membentang luas, langit biru, jalanan yang bagus terlihat masih hitam habis di aspal, dan terpenting tidak terkena macet.
            12.30 WIB tepat memasuki kawasan pulau manuk. Tidak begitu jauh bukan? Bagus di sana terdapat mushola, dan hal terindah adalah mukenanya harum tidak bau apek. Setelah mensyukuri nikmat-Nya melalui sujud, ruku. Akhirnya siap menikmati pasir, dan deburan ombaknya Pulau Manuk. Satu hal yang membuat saya terenyuh adalah rasa rindu itu kembali muncul, rindu kepada pulau sabeku, dan rakata. Ahh.
            Pulau manuk memeliki kesamaan dengan sabeku. Pasirnya bersih, air lautnya juga. Tapi, sabeku masih menjadi yang pertama di hati, belum ada yang bisa menggantikannya. Tetap untuk bertasyakur alam. Pulau  ini sungguh memesona dengan segala lekuk keindahanya. Dia memiliki banyak pepohonan, dan batu karang yang sangat besar sangat cocok untuk  bernasis ria, dan merenungi kehidupan hehe. So siapkan camera terbaikmu ya! Saya mengabadikannya dalam kamera HP Samsung 1,3. Kurang bagus dibandingkan dengan kamera seleher (read:DSLR, doakan ya supaya segera punya J ). Pulau manuk memang sangat memuaskan untuk mereka yang mempunyai hobi bermain air laut, dan bernasis ria. Keunikan dari pulau ini adalah di bagian baratnya adalah hamparan luas pasir, dan di sebelahnya lagi adalah bebatuan karang yang beraneka ragam, ada yang kecil hingga besar dan tingginya melampui badan.  Bagi yang suka membasahi diri karena senang berkejaran deng ombak, tak usah risau akrena disana ada kamar mandi dengan tarif Rp. 2.000,- lokasinya tidak jauh dari samping mushola.
Pantainya sepi, padahal sangat indah.

Bebatuanya ada yang kecil hingga super besar

            Ada monyet! Ya saya masih keheranan “Kenapa bukan pulau monyet?” disana ketika menjelang sore banyak dijumpai monyet. Entah jenisnya apa, yang saya tahu monyetnya ada yang berukuran kecil, sedang, besar, dan ekstra besar (s, m, l, xl ). Monyetnya biasanya turun gunung ketika menjelang sore, tenang saja mereka sangat jinak, tapi kudu hati-hati. Lengah sedikit sama perbekalan makanan, bisa diambil diam-diam sama keluarga monyet. Para pengguna jalanpun biosa menjadi kemacetan di jalanan pulau manuk. Karena tidak sedikit para pengendara mobi, motor, berhenti sejenak untuk member makanan kepada para monyet. Pare monyet berada di hutan yang berbatasan dengan jalan raya, jadi wajar saja jika sekelompokan monyet ini menjadi daya tarik mereka yang melewati jalan tersebut. Dan, saya sangat bahagia ketika bisa menyentuh tangan si monyet, dan menjadi saksi kemesraan antara ibu monyet dan anak bayi monyet (sayang nggak ke poto ibu dan bayi monyetnya).

            Dan menyisakan kepiluan adalah menhan rasa penasaran akan pulau yang disebut banyak orang yaitu “pulau dewatanya Banten”, Sawarna. “Bagusan pulau manuk neng” ucap ibu penjual rujak, ditambah lagi dengan penjual tahu bulat yang mengatakan hal yang sama. Mereka punya argument yang sama tentang Sawarna yaitu gersang. Benarkah? Dan perbedaan selanjutnya jika ke Sawarna harus bayar, tapi ke Pulau Manuk, gratis! Jika tempat duduk di Sawarna berbayar lagi, di Pulau Manuk tidak mengeluarkan rupiah sepeserpun. So, paket hemat ya dan semoga bermanfaat.
Rangkasbitung, 14 Oktober 2013
Dalam kepegalan yang nyata :D



{ 3 komentar... read them below or Comment }

  1. Anis, so great! Akhirnya ada postingan dr Anis lagi... Tetep semangat yaak! Paling EYD, Nis... masalah kita kayaknya sama2 di EYD deh. Yuk yuk sama2 belajar dng rajin posting begini :)

    BalasHapus
  2. Yup betul kata Intan, EYD.. Typo juga, masalah ktia semua :D Foto bisa juga kayaknya ukurannya digedein dikit ;)

    BalasHapus
  3. aihhh senengnya dikunjungi sama mbak Intan n Mbak noe yang sudah makan banyak asam garam dunia menulis :)
    makasih ya tetehku semua.

    Sip siplah, anis mau tulisannya bersama kalian dalam satu buku ^_^
    KEEP WRITE

    semangaaattt eaaaa :)

    BalasHapus

- Copyright © JEJAK RINDU - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -