Posted by : Annisa Sofia Wardah Jumat, 20 September 2013

Jilbab, Berkibarlah!
Berjalanlah.
Sebab berjalan memilikik lima manfaat.
Menghilangkan stres dan kesedihan.
Menambah rezeki .
Bertambahnya ilmu dan pengalaman.
Mengenal etika dan norma sehingga akan semakin santun .
Serta memperbanyak teman dan relasi
-Imam Syafei
Quate itu selalu tertempel rapih di mading hijau kamarku. Betapa setiap susunan abjad memberikan makna untuk menguatkanku mengelilingi keindahan ciptaan Sang Kuasa. Kata-kata sang Imam memberikan energi positif untuk membuat kakiku siap menjajaki gunung di negeri tropis ini. Sindoro, Merbabu, Merapi, Sumbing, Papandayan, Krakatau dan masih banyak gunung yang mengisi bilik hati dan tak kuasa untuk menahan semangat mendaki.
Perjalanan yang tidak cukup hanya dengan semangat yang membadai. Hati harus kuat menahan rasa sakit. Bukan sakit yang ditimbulkan karena jarak jauh yang ditempuh dalam setiap pendakian. Tidak karena panas yang membakar kulit, kerikil, atau bebatuan besar yang mempersulit pendakian, bukan! Sakit yang dimaksud adalah cacian dan hinaan terhadapku. Gadis yang mulai gemar mendaki dengan berjilbab dan rok yang tak pernah lepas ketika kumendaki. Terlebih dengan tampilanku yang seperti ini, selalu saja ada yang menganggap diriku lemah.
Tapi di sudut ruangan putih ini, tempatku merebahkan badan, bersujud pada Sang Pecinta, dan si mading hijau itu selalu membuatku kuat dan membuktikan pada dunia bahwa “Gunung adalah sahabatku!” Tidak ada larangan untuk mereka yang tetap bertahan dengan keanggunan rok dan jilbab yang membaluti diri.
“Nggak salah loe ke Krakatau pake rok, Rima?” lagi kata itu terlontar dari setiap bibir dan tidak pernah bosan mereka menanyakan tentang kostum yang tak pernah lepas kupakai ini.
“Akan ku buktikan!” semangatku dalam hati.
Tiga hari lalu sungguh berkesan, memori otakku tidak akan sanggup untuk menghapusnya. Kini, ditemani si biru laptop kesayanganku, aku mulai mengetik. Bercinta dengan kata, berbagi kisah di tempat yang aku anggap surga. Ah, tapi surga Sang Maha Kuasa tak ada bandingannya.
Terekam kuat, perahu tradisional KM Sunjaya membawaku dan teman-teman menuju cagar alam Krakatau. Mesin yang berderu dengan kencang, memekakan telinga menghantarkan aku untuk berani duduk di atap kapal. Sensasi yang membuat hati berdesir setiap mengingat duduk di dekat tiang yang bendera berkibar dengan liarnya. Tiupan angin mengkibarkan jilbabku, percikan air laut biru membasahi pipi, angin laut yang menyejukan kalbu, biru langit yang menentramkan mata, elang yang sibuk mencari makanannya. Hingga tak lepas aku dari ombak-ombak yang saling berkejaran.
Matahari yang terbit dari timur, memberikan sinar kebersemangatan untuk menguatkan kaki, memijaki setiap lekukan gunung Krakatau. Rama, pria yang katanya gagah itu masih setia berjalan di sampingku, memerhatikan dari ujung sandal gunungku hingga ujung jilbab hijauku ini. Entah apa yang dia pikirkan. Mungkin aku seperti ulat hijau, yang saat hari minggu itu aku berdrescode hijau atau lagi-lagi terheran-heran melihatku menggunakan rok dan jilbab yang berkibaran tertiup angin.
Perjalanan yang tidak mudah memang untuk pemula sepertiku. Tapi puncak Krakatau sudah memanggil jiwaku, terlebih menggoda telapak kakiku untuk segera sampai padanya. Rama, kini mengikuti dari belakang, masih tetap keheranan dengan balutan kain yang aku pakai. Tidak peduli denganya, karena setengah pendakian pulau Rakata mengalihkan semua perhatianku. Baru setengah perjalanan, biru laut memukau mataku hamparan yang tiada batas, begitupun burung elang yang jelas bertasbih mengelilingi langit dan awan.
Lensa kamera tidak henti memotret segala lekuk keindahan hasil ciptaan tangan Sang Kuasa. Berpose layaknya sang model, memberikan senyuman manis, memainkan anggota badan bergaya bebas bin narsis. Sangat merugi jika perjalanan ini tidak diabadikan dalam jepretan lensa kamera. Dan Rama pun masih memerhatikan kesibukan orang yang di sekelilingnya, termasuk aku. Entahlah apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya.
Sang bola api masih bersahabat, teriknya tidak begitu membakar kulit. Tapi cukup membuat peluh mulai membasahi tubuh menembus kaos terluar. Semua pelancong mengeluarkan seluruh tenaga untuk dapat sampai di puncak gunung Krakatau. Bangga rasanya ketika melihat banyak pelancong yang bersemangat untuk menjelajah hutan dan gunung Krakatau. Tidak hanya turis dalam negeri, sang bule terlihat ceria ketika menyaksikan kecantikan Krakatau ditambah lagi banyak yang ingin berpose bersama mereka.
“Trala..la.la”
“Alhamdulillah” ucap syukurku tiada henti ketika aroma kawah tercium kuat pada hidungku. Letihnya kaki ketika mendaki, peluh yang keluar banyak, nafas yang terengah-engah kini sudah terbayar dengan segala polesan yang begitu harmoni dalam hasil kerja sang Maha Kuasa. Semua mengukir senyum kesyukuran.
“Diam lo disana!” gertakkannya sempat merusak segala kenikmatan aku dalam memandangi Krakatau.
“Satu, dua, tiga cheeeesse!” Bibirnya kini tersenyum lepas, sambil mengarahkan kameranya ke arahku.
“Haiiii! Rama!” teriakanku tak cukup membuatnya berhenti dari langkahnya yang mulai menjauh dari tempat dia memotretku dengan tiba-tiba.
“Alhamdulillah, yuhuuuu! Haiii Krakatau, disini jilbabku berkibar. Krakatau betapa gantengnya dirimu!” jeritku dalam hati. Ingin teriak dengan kencang tapi kawatir teriakanku merusak khidmat mereka para pelancong yang sangat tertegun melihat semua maha karya ini.
Tidak rela rasanya kedua bola mataku berhenti unttuk menatap pepohonan yang hijau, laut biru. Tentang Rama yang misterius? Tidak aku pedulikan. Aku hanya peduli bahwa aku jatuh cinta pada si ganteng Krakatau.
Ya aku jatuh cinta pada Krakatau sejak tiga hari yang lalu, dan selalu terbayang dalam kedua mataku ini. Ahh, sungguh tiga hari yang lalu itu tidak akan terhapus dalam ingatanku. Tidak cukup rasanya menuangkan segala keindahan alam dalam tulisan. Keindahan yang begitu kaya raya, membuatku miskin kata untuk menyusun keindahan dalam tulisan. Kegagahan Krakatau tidak dapat aku tandingkan dari setiap untaian tulisanku.
“Klik, klik” jari dengan lincah mengklik setiap rekaman gambar di layar 22 inchi ini. Semua orang yang berada dalam gambar tertawa gembira, mata yang berbinar bahagia. Lagi, maha karya-Nya memang sangat seksi, selalu menggoda untuk dijajaki. Selain kupandangi poto-poto di gunung Krakatau, masih ada yang membuatku tidak henti bersyukur karena bisa menginjak pasir halus, di pulau Umang, pulau Sabeku Kecil, pulau Sabeku Besar.
Ketiga pulau yang sangat dahsyat akan flora dan harmonisnya warna yang menyejukan mata. Kembali, jilbabku berkibar ditiup kencangnya angin. Rok cokelat yang kukenakan terlihat senang ketika bisa menikmati centilnya air laut yang membasahi. Saat itu, aku masih ingat sejenak berhenti dari kemesraanku bersama ombak Sabeku karena mendapati Rama lelaki yang duduk menepi di pantai, sambil memerhatikan rok yang basah,dan jilbab yang berkibar. Jadi siapakah dia? Masih menjadi pertanyaan terbesar dengan pria berambut gondrong sebahu itu. Yang aku ketahui dia adalah anak pecinta alam dari ibu kota Jakarta.
Rima, terus semangatlah mendaki, mengarungi,
menjelajahi Indonesia bahkan dunia!
Kibarkanlah jilbabmu.
Setia dengan rokmu, ajak dia selalu! Dari sanalah aku sadar bahwa jilbabers, itu tangguh! Jilbab berkibarlah
-Rama
Diterima:
10:30:30 pm
Hari ini dari :
081807294245
Pesan masuk di handphone menyadarkan bahwa pria misterius itu bisa manis dalam bertutur kata. Dan sungguh keajaiban pria berambut gondrong itu kini menjadi sang penyemangat dalam berjelajah. Bahagia meledak tak karuan. Rasanya, bunga-bunga bermekaran di dalam kamar ini. Ah Rama, pria misterius itu memang manis! Merasa salah awal telah menganggapnya pria yang anti perempuan berjilbab, dan kini dia menjadi penyemangatku.
“ Thanks Rama! Akan kujelajahi dunia, setia dengan rok, dan jilbabku akan berkibaran di setiap tempat yang kupijaki!” segera kumulai mengetik tuts-tuts handphone dan sigapku kirimkan padanya, si pria Jakarta.



{ 1 komentar... read them below or add one }

- Copyright © JEJAK RINDU - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -